Friday 15th December 2017

MENGENAL LEBIH DEKAT PERAIH ANUGERAH NUMERA 2017

MENGENAL LEBIH DEKAT PERAIH ANUGERAH NUMERA 2017
Lenterasastra.co, Malaysia – Anugerah Numera 2017 yang diselenggarakan di Malaysia pada Kamis malam, 21 September 2017 menempatkan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abbas atau yang lebih akrab dengan nama Irwan Abu Bakar sebagai penerima Anugerah Patria Numera 2017. Sastrawan kenamaan Malaysia ini dipandang layak mendapatkan anugerah tersebut karena ia telah lama aktif menulis karya-karya sastra yang berkualitas, selain itu kiprahnya dalam memperjuangkan kesusastraan, terutama sastra siber, tercatat sebagai pergerakan yang konsisten sejak 2002.
Meski nama sastrawan yang dalam setiap pergerakannya selalu mendapatkan dukungan penuh dari istri dan ketujuh anaknya ini sudah tidak asing lagi bagi para pegiat sastra, tidak ada salahnya kembali mengenalinya lebih dekat lagi.

 

      Irwan Abu Bakar memberikan sambutan (Kredit foto: Ilya Kablam)

 

Sastrawan Malaysia yang dikenal hampir di seluruh kawasan Asia Tenggara dan beberapa negara Eropa ini merupakan Presiden Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia yang ia bentuk pada tahun 2002. Irwan boleh dikatakan sebagai orang pertama di Malaysia yang secara sungguh-sungguh serta konsisten menegakkan pergerakan sastra siber dengan jargon “Dunia Tanpa Sempadan”. Ia juga merupakan inisiator sekaligus ketua dari Gabungan Komunitas Sastra ASEAN sekaligus penasehat Rumah Sastra ASEAN. Karena kegigihannya pula World Association of Literary Communities (atau WALC) terbentuk.
Sudah banyak buku yang telah ia terbitkan selama puluhan tahun aktif di dalam dunia sastra, di antaranya Disforia Alam Bahasaku (Pelita Bahasa, Februari 1995), Antologi bersama Misi (DBP,1996), Antologi bersama, Tanah Serendah Sekebun Bunga (DBP,1998), Antologi bersama, Sumpah Setia Bahasa (GAPENA,1999), Gelodak (PIKIR, 2003),  Antologi puisi tunggal Semelar (kAPAS Publication, Jun 2003), Novel Meja 17  (eSastera Enterprise, Kuala Lumpur, 2008), Antologi Puisi, Kuntom Ungu (2012), Novel Meja 17 versi Bahasa Indonesia (eSme Indo, Jakarta, 2014), dan Antologi Puisi Tunggal, Peneroka Malam (eSme Indo, Jakarta, 2014).
Beberapa karyanya mendapat sambutan yang cukup hangat dari berbagai kalangan pembaca. Untuk antologi puisi tunggal Peneroka Malam, diapresiasi dalam bentuk ulasan atau esai oleh penyair-penyair Indonesia semisal Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Esti Ismawati, Dedy Try Riyadi, Yo Sugianto, dan beberapa penyair lainnya. “Kasih Yang Kutelan”  mendapatkan penghargaan Sastera Darul Takzim 2009 (kategori Puisi Lepas).
Irwan kerap mengadakan kunjungan ke berbagai negara, yang tidak lain tidak bukan untuk saling mengenali dan menyebarkan semangat bersastra di dunia. Salah satu negara yang sering ia kunjungi yakni Indonesia, karena baginya Indonesia memikiliki daya tarik tersendiri, terutama Yogyakarta, Jakarta, dan Banten. Ia tidak pernah mempermasalahkan persaoalan batas-batas negara, karena pada pandangannya, sastra tidak mengenal batasa negara, jika pun mengenal batas negara, sastra adalah jalan untuk menyuarakan perdamaian di seluruh dunia.
Mengenai aspek-aspek penilaian yang digunakan oleh panel juri untuk menentukan para penerima Anugerah Numera tidak saja pencapian karya sastra yang baik, melainkan juga dilihat sejauh mana pergerakan sastra yang diupayakan serta seluas mana pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan, terutama di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian, jelaslah Irwan layak mendapatkan Anugerah Patria Numera 2017.
Tidak banyak yang tahu bahwa sastrawan yang satu ini bukan seorang profesor dalam bidang sastra, melainkan profesor di Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan, Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya. Laki-laki yang  lahir di Segamat, Johor pada 11 Mei 1951 ini juga tercatat sebagai orang Malaysia pertama yang mengikuti pendidikan formal dalam bidang biokejuruteraan.  Di Universiti Malaya,  kurang lebih selama 15 tahun, ia menjadi ahli Senat Universiti Malaya.
Dalam bidang profesional yang sesuai dengan latar pendidikannya, Irwan dipercaya sebagai President Malaysian Society of Medical and Biological Engineering (MSMBE).

No Responses

Leave a Reply