Friday 15th December 2017

Kemesraan Indonesia-Malaysia dalam Dialog Antarbangsa

Kemesraan Indonesia-Malaysia dalam Dialog Antarbangsa
 
Oleh Ferdiyan Ananta
15178991_1257244091005409_6045045589602621107_n

Dari kanan: Muhammad Rois Rinaldi, Yo Sugiyanto, Irwan Abu Bakar, dan moderator Ardian Je.

 

I/
Biasanya pertemuan antarbangsa dilaksanakan dalam gedung-gedung megah dengan suasana formal dan jalur protokoler yang penuh dengan retorika serba kaku, tapi tidak demikian dengan pertemuan kali ini, rombongan sastrawan dari Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia dan Gabungan Komunitas Asean menghadirkan diri di tengah masyarakat Indonesia yang sesungguhnya.  Bersidepan dengan wajah-wajah yang menyimpan harapan dan ketakutan; menemukan galur-galur masa lalu dan jalan setapak menuju masa depan pada wajah-wajah itu; juga kelemah-lembutan sekaligus kekuatannya. Barangkali inilah yang disebut para sastrawan yang menemui realitas.
 Yayasan Al-Khairiyah banu Qomar (Al-Baqo)  sebagai institusi yang mengundang Aktivis E-Sastera Malaysia dan Gabungan Komunitas Asean pada hari Sabtu 19 November 2016, sungguh menyambut dengan bahagia. Karena ini bukan saja mengenai pertemuan yang selesai pada persoalan pertemuan, tapi ada angin perdamaian yang diembuskan di setiap jejak langkah, kalimat, senyuman, kerling mata, dan tawa mereka. Di tengah gejolak politik dunia yang kerap melahirkan polemic rumit yang panjang dan berliku, manusia di bumi bulat ini memang harus kembali berdialog dengan mesra dan intim.
Sepanjang dialog, setidaknya setiap yang hadir dapat melihat bagaimana komunikasi dua negara dapat terjalin tanpa bertanya warna paspor, warna kulit, ras, suku, dan negara masing-masing sebagai sebuah perbedaan yang menjadi sekat. Sebaliknya, perbedaan-perbedaan tersebut memperhangat suasana karena dengan sadar diartikan sebagai hikmah dan berkah bagi sesama manusia. Sehingga dua negara dapat duduk berdampingan membicarakan pergerakan dan perkembangan kesusastraan Asean, terutama kesusastraan Indonesia-Malaysia.
Adapun rombongan yang hadir di antaranya Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, Presiden E-Sastera Malaysia, novelnya yang cukup terkenal di Indonesia adalah Meja 17; GLP, singkatan dari Grup Lagu Puisi yang dibentuk oleh E-Sastera guna mempromosikan sastra di kalangan anak muda; Ahkarim, yang selalu semangat mengawal pergerakan sastra; Puzi Hadi, sastrawan yang identik dengan sajak-sajak ekspresif sebagaimana sajak-sajak penyair Indonesia, Sutardji; dan Yo Sugiyanto, penyair Yogyakarta yang turut dalam rombongan. Sebenarnya beberapa sastrawan Thailand, di antranya Mahroso Doloh, dan Singapura, di antaranya Rohani Din, sempat hadir di Banten, tapi rombongan Thailand dan Singapura hanya sempat datang satu hari, sehingga tidak dapat hadir dalam acara dialog.
Dialog yang dipandu oleh moderator Ardian Je ini digelar menjelang petang hari dan dibuka oleh Ketua Yayasan, KH. Muktillah atau dalam dunia sastra ia dikenal dengan nama Mukti Jayaraksa. Sebagai ulama, pendidik, sekaligus sastrawan, ia menyampaikan kegembiraannya atas kehadiran para sastrawan dari negeri jiran. Dengan adanya silaturahmi ini, akan mendatangkan keberkahan dalam hidup baik hidup di dunia yang fana ini mau pun hidup di dunia yang  kekal kelak. Ia juga menyampaikan betapa pentingnya kesusastraan di tengah manusia. Karena sastra mampu melembutkan hati yang keras dan membuat logika manusia lebih terbuka, sehingga tidak lagi terprovokasi oleh satu kalimat orang yang membuat gaduh seantero negeri. Sastra juga, menurutnya, merupakan hal yang paling dekat dengan Islam terutama kitab suci Al-Qur’an.
“Siapa yang tidak mencintai sastra, berarti tidak mencintai Al-Qur’an,” ujarnya dengan nada suara tegas dan wajah yang sangat serius.
Kalimat yang ia lontarkan memang terkesan sangat berani, ia sampaikan berkali-kali dalam berbagai kesempatan. Dalam berbagai kesempatan juga ia menekankan bahwa Al-Qur’an mengandung nilai-nilai sastra yang sangat tinggi, oleh karenanya mencintai sastra berarti mencintai Al-Qur’an yang maha sastra itu.
Selanjutnya GLP menyanyikan dua lagu yang dipersembahkan kepada ratusan penonton. Ilya yang bergaun hitam dengan kerudung bermotif bunga dan Hijasri yang mengenakan jas merah marun dipadu dengan jeans biru serta kaos dalam hitam tampil memukau. Perpaduan suara GLP dengan rentak music yang dinamis setidaknya dapat menjadi referensi musikalisasi puisi dari negeri jiran. Tidak heran jika GLP yang sudah 5 tahun konsisten bergerak di jalur lagu puisi sengaja dibentuk sebagai agent yang memperkenalkan sastra di kalangan anak muda, lebih dari itu memperkenalkan sastra kepada manusia lintas usia dan lintas negara. Karena music tidak mengenal batasan apapun, sekali pun dengan bahasa yang asing sama sekali, music tetap dapat dinikmati.
15178205_1257242647672220_2777815793520994663_n

GLP (Grup Lagu Puisi) E-Sastera Malaysia

Sebelum dialog dimulai, Gabungan Komunitas Sastra Asean (GAKSA) meluncurkan antologi sajak penyair-penyair Asean yang bertajuk 1.000 Detik Perasaan yang diwakili oleh Irwan Abu Bakar. Ia mengutarakan bahwa buku bersampul kuning ini merupakan terbitan pertama Gaksa, yang disokong oleh lima komunitas sastra Asean, bekerjasama dengan E-Sastera Enterprise. Sastrawan yang kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan tidak terduga di atas panggung ini kembali membuat kejutan, ia  meminta kesediaan Mukti Jayaraksa untuk membaca salah satu sajaknya yang dimuat di dalam buku tersebut sebagai tanda peluncuran. Mukti mulanya tampak kaget, namun pada akhirnya ia naik panggung menerima penghormatan dari Gaksa Enterprise. Usai membaca salah satu sajaknya, Mukti mendapat hadiah buku dari Irwan Abu Bakar.
II/
Meski tema dialog yang diangkat terbilang serius, pembawaan yang ringan dari Irwan Abu Bakar, Muhammad Rois Rinaldi, dan Yo Sugiyanto sebagai pembicara membuat keadaan menjadi sangat bersahabat. Masing-masing pembicara membuka dialog dengan melontarkan wacana ihwal pergerakan sastra di Indonesia dan Malaysia. Selain itu, sesuai dengan judul besar dialog, para pembicara juga melontarkan wacana megenai penerbitan buku sastra berupa puisi, kumpulan cerita pendek, dan novel, baik yang berkaitan dengan teknis-teknisnya maupun kemungkinan terjadinya kerjasama antarabangsa dalam bidang yang berkenaan.
Irwan Abu Bakar mengisahkan bagaimana E-Sastera yang bergerak sejak 2002 berupaya menemukan penulis-penulis berpotensi melalui portal-portal online yang dibuat. Kemudian waktu, ia merasa ada beberapa penulis yang hilang dari peredaran. Portal-portal menjadi sepi penghuni. Tidak hanya itu, di kedai-kedai yang biasanya dijadikan tempat para penulis berkumpul pun sepi. Ia semakin bertanya-tanya, kemana perginya para penulis? Setelah dicari-cari ternyata para penulis itu ada di Facebook. Kemudahan Facebook untuk berkomunikasi dengan aplikasi yang ringan membuat para penulis di Asean berpindah tadah. Oleh sebab itu, E-Sastera membuka grup-grup Facebook sesuai dengan gendre sastra yang diminati oleh anggotanya. Tujuannya agar mudah memperhatikan kualitas karya berdasarkan gendre, selain untuk memudahkan pendokumentasian.
15095443_1257242954338856_8210305537068332948_n

Prof. Dr. Irwan Abu Bakar menyerahkan buku 1.000 Detik Perasaan kepada ketua Yayasan Al-Baqo, Mukti Jayaraksa.

Mengenai penerbitan, E-sastera telah menubuhkan E-Sastera Enterprise sebagai badan resmi yang menangani penerbitan karya-karya yang dianggap layak cetak dan layak ditawarkan kepada pembaca.  E-Sastera Enterprise juga menangani peluncuran serta pendistribusian buku-buku yang diterbitkan dengan memanfaatkan kedai online. Kemudian pada perkembangannya E-Sastera menubuhkan penerbitan di Indonesia yang diberi nama  EsMe Indo. Pengoperasian serta kebijakan-kebijakan EsMe Indo dipercayakan kepada pendiri Rebon, Yo Sugiyanto. Dengan demikian, menurut Irwan, diharapkan untuk persoalan penerbitan di Malaysia dan Indonesia dapat ditangani baik. Ia juga sempat menyinggung penubuhan Gaksa Enterprise yang dipercayakan kepada penyair Banten, Muhammad Rois Rinaldi, sebagai CEO. Gaksa Enterprise akan menangani penerbitan buku-buku di tingkat antarbangsa, terutama Asean.
Saat ditanya oleh salah satu audien mengenai keterbatasan masyarakat Indonesia pada umumnya dalam hal pengetahuan bahasa Malaysia, Irwan memaparkan perlu adanya upaya penerjemahan karya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Malaysia begitu pula sebaliknya. Meski dilihat dari akar bahasanya, Indonesia dan Malaysia memiliki latar bahasa yang sama, tapi tetap saja ada perbedaan yang perlu dijembatani bersama. Selain itu ia juga menyampaikan, salah satu tujuan penubuhan GLP untuk menjadi jembatan keterbatasan bahasa melalui bahasa music yang universal.
Pada kesempatan selanjutnya Muhammad Rois Rinaldi mengatakan bahwa pertanyaan tentang batas-batas negara dalam khazanah pertukaran kebudayaan literasi dalam kadar tertentu dan  penerbitan karya sastra  masa kini sudah tidak relevan. Kemajuan teknologi telah meniadakan kesulitan-kesulitan penulis dunia untuk menyebarluaskan karyanya di berbagai negara.  Tinggal bagaimana melihat kesempatan yang ada, serta memaksimalkan potensi masing-masing. Selebihnya ia memandang batas bagi krativitas manusia bukan fitrah keterbatasan manusia, melainkan pikiran-pikiran manusia itu sendiri yang menjadi batas.
“Oleh sebab itu, yang paling pertama perlu diluruskan adalah pikiran. Berpikir besar itu perlu, asalkan tidak membesar-besarkan pikiran dengan mengecilkan proses. Dalam hidup kita harus mampu melihat potensi diri kita untuk terus ditingkatkan dan harus mampu melihat kesempatan-kesempatan yang ada. Jangan tanyakan kepada saya mengapa Anda tidak produktif atau tidak bisa fokus saat menulis, tapi tanyakan kepada diri Anda sendiri mengapa dan apakah Anda sungguh-sungguh serius dan sabar dalam menjalani proses,” ujar Rois saat menjawab pertanyaan salah satu audien.
Pada sesi tanya jawab perwakilan dari Kantor Kementerian Agama Kota Cilegon, Zaitty Musafiroch, secara khusus menanyakan kesiapan Rois untuk membina siswa-siswi MTs-Mts di Kota Cilegon agar menjadi sekolah yang giat terhadap literasi. Karena menurut perempuan yang bertugas sebagai pengawas sekolah ini, selain MTs Al-Khairiyah, harus dipikirkan juga bagaimana MTs yang lain dapat kesempatan yang sama dalam bidang literasi. Mendapati pertanyaan tersebut, Rois antusias menjawab. Ia menyarankan agar Kantor Kementerian Agama Kota Cilegon terlebih dahulu membuat program yang sesuai untuk pembinaan anak-anak MTs, bagaimana caranya agar program yang dibuat tepat guna. Selebihnya, Presiden Lentera Internasional ini siap mengawal.
            Penyair Yogyakarta, Yo Sugianto, pada bagiannya mengungkapkan bagaimana menghadapi persoalan keterbatasan kemampuan dalam menulis atau kekurangan ide. Ia menyarankan agar mengupdate pengetahuan melalui membaca dan terus menulis. Jika kehabisan ide, ia menyarankan agar datang ke tempat-tempat baru semisal sebuah wilayah yang belum pernah didatangi.
“Dengan demikian mungkin saja ide akan bermunculan,” pungkas Yo.
III/
15095108_1257239801005838_5858059183565744631_n

 

Suasana sebelum dialog

 

Seusai dialog secara kasat mata mungkin kegiatannya tinggal foto-foto bersama untuk mengabadikan kegiatan. Tetapi lebih dari itu, terjadi komunikasi lain yang meski tidak bertema,  tidak mengurangi nilai pertukaran pengetahuan dan pemikiran antarbangsa. Sebagaimana dimafhumi bersama bahwa manusia adalah makhluk sosial. Tanda manusia sebagai makhluk sosial adalah dengan adanya komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Bahasa manusia yang kompleks tidak saja terdiri dari kata-kata yang diucapkan, melainkan ada yang disebut dengan bahasa tubuh dan mata. Oleh sebab itu, sekali pun perkembangan teknologi informasi memungkinkan manusia berkomunikasi tanpa harus tatap muka, pertemuan-pertemuan langsung seperti ini mesti tetap dijaga. Karena di dalam gerak tubuh dan mata manusia ada bahasa yang perlu dipahami. Begitu juga ketika bersitatap  dengan rombongan E-Sastera dan Gaksa, saya dapat membaca bahasa tubuh dan bahasa mata mereka, begitu akrab dan hangat.
Cilegon, 20 November 2016
Ferdiyan, penulis dan Wakil Kepala  MTs Al-Khairiyah Karangtengah.

No Responses

Leave a Reply