Sunday 26th February 2017

SASTRAWAN MALAYSIA MENYUARAKAN PERSAUDARAAN DI BANTEN

SASTRAWAN MALAYSIA MENYUARAKAN PERSAUDARAAN DI BANTEN
 
Oleh Fajar Timur
img_4730

Serah terima plakat dari Ponpes Al-Fath kepada E-Sastera.

Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, Ahkarim, dan Puzi Hadi, serta Ilya Kablam dan Hijasri yang tergabung dalam GLP (Grup Lagu Puisi) Esastera ialah barisan sastrawan Malaysia yang mendatangi Banten untuk menyuarakan persaudaraan antarbangsa. Demi niat baik itu, tidak tanggung-tanggung mereka rela menggelar dan menghadiri empat acara yang dilaksanakan secara parallel di tempat yang berlainan dalam waktu kurang dari 48 jam.
Pada malam Sabtu dari pukul 19.00-00.30 WIB sastrawan-sastrawan Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia dan Gabungan Komunitas Sastra Asean ini menggelar “Asean e-Writer Award” dan “HesCom E-Sastera Malaysia 2016” yang disatukan dengan Malam Pentas Sastra Antarbangsa di Pondok Pesantren Al-Fath Kota Cilegon, Banten. Acara yang berlangsung penuh semangat ini sangat mengesankan karena secara bergantian sastrawan Malaysia dan para santri serta beberapa penyair Indonesia yang diundang menampilkan kebolehan mereka. Setidaknya 600 orang yang hadir dari kalangan santri, sastrawan serta seniman Banten, dan masyarakat umum telah mencatat moment penting ini dalam ingatan masing-masing.
Khusus untuk acara di Ponpes Al-Fath ini, sastrawati Singapura, Rohani Din dan penyair muda Thailand Selatan, Mahroso Doloh yang ditemani oleh peraih Asean e-Writer Award untuk Thailand, Zamree Idris  turut hadir. Rohani Din dan Mahroso Doloh didaulat mendeklamasikan sajak mereka, selanjutnya disusul Mukti Jayaraksa (Indonesia), Puzi Hadi, Ahkarim, dan tentu saja penampilan spesial dari GLP.
Pimpinan pesantren, KH. Chairul Anwar, perwakilan dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten, dan perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Cilegon meyambut kedatangan para sastrawan Malaysia ini dengan suka cita. Secara umum ketiganya menyampaikan bahwa kehadiran sastrawan Malaysia di Banten tidak saja sebagai bentuk pertukaran kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata, melainkan ini sebagai bentuk silaturahmi yang akan mempererat persaudaraan negara-negara Asean. KH. Chairul mengutarakan bahwa di tengah gejolak politik dunia yang berpotensi melahirkan gesekan keras kiranya dapat diminimalisir dengan adanya pergerakan sastra antarbangsa. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa kehadiran para sastrawan di Ponpes Al-Fath sudah tepat. Karena sastra dan pesantren merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
img_4970

Para pembicara Seminar Internasional e-Sastera Indonesia-Malaysia 2016

Keesokan harinya (19/11) Prof. Irwan Abu Bakar dan Puzi Hadi menjadi pembicara dalam Seminar Internasional e-Sastera Indonesia-Malaysia (SISIM) 2016 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa STIKOM Al-Khairiyah Cilegon. Keduanya disandingkan dengan penyair Banten yang berkali-kali menjadi penerima anugerah sastra untuk tingkat Asean, Muhammad Rois Rinaldi dan Puket III STIKOM Al-Khairiyah, Soedarmono Moejadi. Seminar yang diikuti oleh 350 peserta dari berbagai kalangan ini dimulai pukul 08.00-13.00 WIB. Karena peserta  seminar sangat antusias sehingga pembicara dihujani pertanyaan, durasi seminar lebih satu jam dari yang dijadwalkan.
Irwan Abu Bakar membentangkan kertas kerja dengan isi perbandingan dua cerita pendek yang ditulis oleh Ahkarim yang berlatar Jakarta dengan cerita pendek karya Muhammad Rois Rinaldi yang berlatar Kuala Lumpur. Perbandingan kedua cerpen ini menarik disimak. Karena sastrawan Malaysia berusaha mendekati nuansa dan nilai-nilai yang ada di Indonesia, termasuk penggunaan bahasanya, begitu pun Rois yang merupakan sastrawan Indonesia, berupaya mendekati nuansa dan nilai-nilai yang ada di Malaysia. Perbandingan ini bukan untuk membandingkan mana yang lebih baik, melainkan untuk menyatakan kepada peserta seminar bahwa pertukaran pengetahuan melalui sastra adalah hal lazim dan dapat menjadi jembatan untuk saling mengetahui, mengenali, dan memahami.
Pada kesempatan selanjutnya Soedarmono memaparkan tentang perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan pencapaian karya yang lebih “kekinian” dan upaya menjalin komunikasi antarbangsa menjadi sangat mudah dan murah. Oleh karena itu, Soedarmono menilai perkembangan teknologi informasi mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berkarya. Selain itu teknologi informasi yang kini menjadi kawan baik peradaban manusia harus diarahkan pada pesan-pesan persaudaraan dan perdamaian.
Puzi Hadi kurang lebih menyampaikan hal yang sejalan dengan Soedarmono. Sastrawan Malaysia yang namanya begitu terkenal di Malaysia khususnya di Kedah ini mengutarakan bagaimana sebuah peradaban baru telah dilahirkan manusia dan dihadapkan kepada manusia. Baik dan buruknya selalu ada, tapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan jalan baiknya dan menolak jalan buruknya. Ia menambahkan bahwa melalui kecanggihan teknologi masa kini dan karya sastra, negeri-negeri di dunia, terutama Negeri Serumpun dapat kembali menjalin hubungan yang hangat dan mesra.
Muhammad Rois Rinaldi yang membentangkan kertas kerja perbandingan sajak penyair-penyair Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand membuka dengan pertanyaan: menurut hadirin… sajak dari negara mana yang terbaik? Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, atau Thailand? Pertanyaan itu kemudian ia alurkan kepada penjelasan bahwa tidak elok menjawab pertanyaan seperti itu dengan jawaban mutlak. Karena setiap negara memiliki bahasanya masing-masing; setiap bahasa memiliki struktur yang identik, sekalipun relatif; edentifikasi bahasa mesti dikaji dari kultur bahasa itu sendiri, tidak dapat dikaji dengan mata pisau dari bahasa lain; dan masih  banyak lagi yang mesti diperhatikan. Ia lebih memilih membuat perbandingan tentang dunia di mata penyair Asean dalam sajak-sajak yang dimuat dalam 1.000 Detik Perasaan, terbitan E-Sastera Enterprise atas inisiasi Gaksa Enterprise.
Sebagaimana acara di Ponpes Al-Fath, seminar ini juga dihangatkan oleh lantunan lagu-lagu puisi yang dibawakan oleh GLP. Suara Hijas dan Ilya yang lembut dengan logat dan cengkok khas Malaysia membuat peserta seminar tampak terpukau. Yang menarik, GLP menyelipkan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Malaysia, Sheila Majid, yang popular di Indonesia, yakni “Antara Anyer dan Jakarta”, sesuai dengan tema perjalanan rombongan E-sastera dan Gaksa.
15095443_1257242954338856_8210305537068332948_n

Prof. Dr. Irwan Abu Bakar meluncurkan antologi 1.000 Detik Perasaan di Yayasan Banu Al-Qomar didampingi ketua yayasan , H. Mukti Jayaraksa.

Usai seminar dan makan bersama, pukul 14.00 WIB rombongan langsung menuju Yayasan Banu Al-Qomar, Karangtengah. Yayasan yang membawahi madrasah diniyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah ini menggelar “Dialog Sastra Internasional dan Penerbitan Buku Rumpun Melayu”. Kedatangan rombongan disambut dengan  penampilan silat khas Banten lalu GLP didaulat untuk tampil kembali menyanyikan lagu-lagu puisi, disusul dengan sambutan Ketua Yayasan Al-Baqo, KH. Mukti Jayaraksa. Sebelum dialog dimulai, Irwan meluncurkan antologi puisi 1.000 Detik Perasaan dan mendaulat ketua yayasan—yang karyanya juga di muat dalam buku tersebut—untuk membacakan salah satu sajaknya.
Pada sesi dialog, para pembicara yang terdiri dari Irwan Abu Bakar, Yo Sugiyanto (penyair Yogyakarta yang ikut rombongan Malaysia), dan Muhammad Rois Rinaldi memaparkan secara singkat pandangan-pandangannya mengenai hubungan rumpun Melayu melalui perspektif kesusastraan dan upaya penerbitan serta teknis-teknisnya. Pemaparan para pemateri disambut dengan pertanyaan-pertanyaan menarik yang kritis. Meski demikian, para pembicara tidak kesulitan menjawab pertanyaan audien. Bahkan Irwan menyarankan audien untuk menggunakan Facebook sebagai salah satu media untuk berkarya secara serius dan bertanggung jawab. Ia juga menerangkan bahwa E-Sastera berupaya menemukan para penulis berbakat melalui gru-grup Facebook khas E-Sastera.
Di dalam dialog tersebut, Muhammad Rois Rinaldi mendapatkan pertanyaan yang bernada tantangan dari perwakian dari Kantor Kementerian Agama Kota Cilegon. Ia ditanya kesediaannya untuk turut mengurus madrasah-madrasah di Cilegon agar turut menjadi penggerak kesusastraan, paling tidak menjadikan para siswa madrasah di Cilegon mencintai karya sastra. Rois mengutarakan dirinya siap bekerja sama dengan pihak manapun untuk perkembangan kesusastraan, dengan catatan tidak dijadikan ajang alakadarnya. Ia mau semua dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Pada kesempatan itu, Irwan juga menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Banten. Karena melalui beberapa acara yang telah ia hadiri, rupanya masyarakat Banten sudah sangat mengerti bagaimana kesusastraan mampu menjadi jalan untuk saling menerima perbedaan. Dengan redaksi yang sedikit berbeda Rois menyampaikan bahwa kalau di zaman ini manusia masih bicara batas negara sebagai hambatan, itu kuno. Hari ini, masih menurut Rois, batas negara sudah tidak ada. Sedangkan Yo Sugiyanto sepanjang dialog lebih cenderung mendukung atau menambahi apa yang sudah dipaparkan oleh Irwan dan Rois.
Dari Yayasan Banu Al-Qomar, rombongan menghadiri Malam Pentas Anak 2016 yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten, di Kramatwatu, Kabupaten Serang. Ketibaan rombongan disambut dengan tari Nirmala kreasi yang ditampilkan oleh gadis-gadis kecil berusia 8 tahunan. Beberapa saat rombongan menyaksikan pidato, marawis, dan pembacaan puisi yang semuanya ditampilkan oleh anak-anak di bawah 12 tahun. Sebelum akhirnya GLP kembali didaulat menyayikan lagu-lagu puisi. ratusan penonton memberikan tepuk gemuruh untuk penampilan GLP.
img_5203

Ahkarim mendeklamasikan sajaknya di Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten dengan gaya yang khas dan menarik.

Acara dengan tema “Merawat Kejujuran, Kebahagiaan, Keberanian, dan Kecerdasan Anak Bangsa” ini selanjutnya mendaulat Irwan Abu Bakar, Puzi Hadi, dan Ahkarim untuk mendeklamasikan sajaknya. Meski sastrawan-sastrawan Malaysia ini membaca sajak dengan bahasa Melayu yang tidak familiar di tengah masyarakat Indonesia, senyatanya para penonton tidak henti memberikan tepuk tangan gemuruh, tanda mereka sangat menikmati sajak-sajak yang dideklamasikan di hadapan mereka.
Pentas Seni Anak 2016 usai pukul 23.30. sebelum kembali ke hotel, rombongan makan malam bersama di rumah pengurus Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten, yang tidak lain adalah Muhammad Rois Rinaldi. Ditemani kedua orangtua Rois, obrolan ringan yang hangat terjalin begitu saja. Seolah-olah sudah saling mengenal selama puluhan tahun, canda dan tawa dalam gurauan terus mengalir sebelum akhirnya rombongan meninggalkan Rumah Baca Bintang Al-khlas Banten dengan membawa kenangan manis.
Sejauh yang saya tahu, ini pertama kali terjadi di Indonesia, ada rombongan sastrawan Malaysia mendatangi masyarakat Indonesia dari kota ke kampung-kampung untuk memperkenalkan sastra antarbangsa, menyuarakan persaudaraan. Upaya langka ini, saya kira layak mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya.
Catatan Kesusastraan, 20 November 2016
Fajar Timur, penyair dan Sekretaris Jenderal Lentera Internasional.

No Responses

Leave a Reply