Friday 15th December 2017

Penyair Indonesia Kembali Meraih Anugerah Sastra Asean

Penyair Indonesia Kembali Meraih Anugerah Sastra Asean
Malam Anugerah  Sastra Asean, HesCom E-Sastera, yang dihelat pada Jumat (18/11) kemarin mengeluarkan keputusan yang menempatkan penyair Indonesia, Muhammad Rois Rinaldi, sebagai penerima Anugerah Penyair Siber 2016. Kategori ini merupakan kategori puncak dari semua anugerah yang dikeluarkan oleh E-sastera untuk insan sastra di Asean, khususnya sastrawan yang berkarya menggunakan bahasa Melayu dan Indonesia.
Presiden E-sastera di sela pengumuman menyampaikan bahwa ini kali ketiga Rois dinobatkan sebagai penyair siber terbaik se-Asia Tenggara.  Ia berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai, piala, dan piagam penghargaan.

 

Presiden E-Sastera, Irwan Abu Bakar, mengucapkan selamat kepada Muhammad Rois Rinaldi sesaat setelah penyampaikan keputusan HesCom E-Sastera 2016.

Presiden E-Sastera, Irwan Abu Bakar, mengucapkan selamat kepada Muhammad Rois Rinaldi sesaat setelah penyampaikan keputusan HesCom E-Sastera 2016.

 

“Pada HesCom 2014 dan 2015 yang diselenggarakan di Dinasty Hotel Kuala Lumpur, Rois meraih anugerah paling tinggi ini, kini ia kembali dinobatkan sebagai penyair siber terbaik 2016,” ungkapnya.
Rois mengaku tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan kembali menerima anugerah tersebut sekaligus menjadi pemilik piala bergilir Nik Zafri untuk tahun ketiga. Karena menurutnya penyair-penyair di Asean, baik yang aktif di media konvensional mau pun media siber atau kedua-duanya sangatlah banyak dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.
“Ini kejutan kedua setelah kejutan yang berupa keputusan E-sastera untuk menggelar HesCom sekaligus Asean e-Writer Award di Banten. Menerim anugerah tertinggi ini untuk ketiga kalinya bukan saja menghadirkan kebahagian, ada rasa tanggung jawab yang begitu besar di hari depan,” papar Rois.
Penyair yang menyabet Anugerah Utama Puisi Dunia 2014 pada malam pertemuan penyair dunia di Dewan Pustaka dan Bahasa Malaysia dari Nusantara Melayu Raya ini mengaku dirinya harus sadar bahwa kepercayaan adalah tanggung jawab. Sebagai bentuk tanggung jawabnya paling tidak ia mesti berupaya untuk terus meningkatkan kualitas karya-karyanya.
Perhetalan yang digelar di Pondok Pesantren Al-Fath Cilegon, Banten ini setidaknya dihadiri oleh 600 orang dari berbagai kalangan usia dan profesi.

(Redaksi Lentera)

No Responses

Leave a Reply