Friday 15th December 2017

Tentang Struktur Fisik dan Batin Puisi

Tentang Struktur Fisik dan Batin Puisi
Oleh Fajar Timur

 

poetry

Puisi adalah medium untuk merealisasikan rasa (sense). Puisi yang baik adalah puisi yang mampu mengomunikasikan pengalaman batin dengan grafik (tulisan).  Permasalahannya, bagaimana merekonstruksi sense menjadi grafik dan membuat orang yang membaca grafik tersebut mampu menangkap sense yang kita rasa.
Puisi adalah ekspresi. Siapapun berhak untuk menulis puisi. Seperti puisi-puisi Ade Ubaidil. Dari enam puisi Ade yang saya baca, hampir semuanya memiliki muatan ide yang berbeda: alam, korupsi, ruang pribadi, dunia malam, kesakitan, dan dampak napza.
Namun, sepertinya ade lupa bahwa puisi bermakna kias. Beberapa kali Ade menuliskan bait secara denotatif semisal //Koruptor itu bukan hanya / dia, koruptor itu / bukan / hanya mereka koruptor / itu…kita! // Indonesia //. Meskipun puisi ada yang  berupa puisi sosial, tapi jasad puisi setidaknya mengandung konotasi. Sedikit sentuhan saja, maka ade mampu menyampaikan idenya dengan baik.
Sementara itu, Egi Mahbubi dengan tiga puisinya tampil dengan benturan-benturan diksi yang variatif, meski kadang menimbulkan kesan terlalu banyak persamaan/metafor sehingga ide utama tertutupi.
Meskipun memiliki ide yang berbeda, puisi-puisi Egi terhimpun dalam satu rasa yang sama. Hal ini mungkin karena diksi dan metafor yang ia susun memiliki warna yang sama.
//Asap dupa menari di sela rimbun dedaun kamboja / batang lisong yang disesap kuncen menguarkan / aroma menyan mengalir di semilir angin lereng bukit…//
(Egi Mahbubi, Peraduan di Sebuah Bukit)
 
//…Kupahati buram kabut Pulosari / tersisa warna bibir Tuhan sehabis hujan / kutelusuri di mana damai bermuara…//
 
(Egi, Sehabis Hujan Senjahari)
 
//…Waktu seumpama angin / dan kita adalah dedaun dan kelopak, katamu / berguguran tinggalkan reranting dan tangkai / ‘kan melepas rindu pada tanah//
 
(Egi, Kunang-kunang)
 
Egi membangun puisi-puisinya dengan suasana dan imaji yang satu warna. Jika dihimpun, maka tampak sekali dominasi diksi-diksi berikut ini: rimbun daun, semliir angin, lereng bukit, kabut, sehabis hujan, angin, kelopak, berguguran, tanah, dan lainnya. Jika ditarik benang merahnya, kesamaan warna itu begitu jelas.
Bolehlah kita berpegang teguh pada kalimat di awal bahwa puisi adalah ruang ekspresi. Namun, ada baiknya puisi tidak hanya jadi konsumsi pribadi. Maka dari itu, puisi yang baik adalah puisi yang bisa menyentuh hati pembacanya baik dari struktur fisiknya (struktur luar) maupun struktur batin. Struktur fisik adalah unsur pembangun puisi dari bentuk luarnya (tipografi, diksi, imaji, gaya, dll.). Sedangkan, struktur batin meliputi unsur yang melibatkan intuisi/kepekaan rasa (ide, pesan, suasana, nilai rasa, dll.).
Ade dan  Egi adalah dua personal dengan karakteristik puisi yang berbeda. Ade dengan puisi sosialnya yang masih lugas, sementara egi dengan puisi kamarnya yang sangat kias. Puisi-puisi ade sangat minim sekali dengan gaya bahasa dan konotasi. Hal ini membuat puisinya terasa putih. Sementara itu, puisi-puis egi malah terlalu hambur dengan gaya bahasa sehingga puisinya terkesan terlalu berdesakan.
Ade hanya menyentuh kulit luar dari ide yang ia jabarkan, semisal perkara Korupsi pada puisi “Koruptor Itu”, tentang derita pemakai obat-obatan terlarang dalam puisi “OD”, dan prostitusi dalam puisi “Jenderal Malam”. Ade hanya melintas sekilas tentang perkara-perkara tersebut tanpa adanya pengalaman batin menyangkut permasalahan di atas. Meski bercorak kritik sosial, puisi idealnya memerlukan nilai rasa (feel) yang kuat sehingga terjalin komunikasi batin yang baik antara penulis, puisi, dan pembaca. Maka dari itu perlu pendalaman batin yang kuat dalam menanggapi permasalahan sosial.Sementara itu, pengalaman batin egi sudah terasa hanya saja memang egi terlalu berkutat pada struktur luar sehingga membuat pengalaman batin/idenya tidak terkomunikasikan dengan baik.
Penulisan titimangsa (tempat dan waktu puisi ditulis) juga menampilkan sejauhmana nilai batin yang ditanamkan dalam puisi. Semisal, kita menuliskan gagasan tentang laut, lalu jika kita menulis titimangsa di suatu pantai, maka akan menambah nilai rasa dan imaji pembaca tentang laut. Ade kerap kali menggunakan titimangsa “Ruang Inspirasi” pada sajaknya. Hal ini memberi stigma bahwa puisi yang ia tulis taklebih dari sekadar di “awang-awang”. Ide-ide yang ada pada puisi tidak dimbangi dengan pengalaman fisik dan pengalaman batin yang kuat.
Dibanding puisi-puisi lain yang seolah membentur-benturkan diksi –atau malah terlampau lugas dalam memilih diksi, puisi “Desa yang Hilang” sangat teratur dalam memilih diksi. Ada lompatan yang indah antara satu diksi ke diksi yang lain.  // Padi mengayun, belalang bergelayut / di antara dahan alang-alang gemercik / sungai bersahutan dengan sorak-sorai / burung gereja memanggil gadis ani-ani / bersama lumbung padi yang ditumbuk / perempuan paruh baya di pematang.// Hanya saja, baris awal puisi tersebut terlalu polos sehingga terbaca sangat kontras antara baris awal dengan baris selanjutnya. Dilihat dari sudut yang berbeda, Ade adalah pribadi yang berani mengambil jalur puisi sosial ketika orang seusianya sangat mantap pada puisi kamar atau suasana, semisal egi.
Dalam puisi “OD” ia telah mahfum dalam memilih diksi, semisal tubuh gigil, jarum suntik, butiran pil, sunyi, dingin, maut. Diksi-diksi tersebut sudah sejiwa dengan ide puisi yang mengangkat topik overdosis. Sudah satu warna. Hanya saja perkaranya, antar diksi tersebut tidak ditunjang dengan konjungsi yang cukup. Sebenarnya hal ini juga berlaku pada puisi “Desa yang Hilang”. Hanya saja, puisi “Desa yang Hilang” lebih beraroma deskripsi, sedangkan Puisi “OD” cenderung bersifat naratif.
Ade sebenarnya mampu menghubungkan satu ide atau menjadi beberapa premis seperti dalam puisi “Imajinasi”. Ade meletakan premis ‘imajinasi’ dalam ruang-ruang yang berbeda; /…tumpukan buku…/dalam sejumput mimpi…/…dalam tayangan televisi…//. Hanya saja ia seolah tidak berniat untuk menuntaskan puisi tersebut karena di bait akhir ia menulis //…Ah, kamu bergurau / Menulis sajalah!// sehingga puisi tersebut menjadi antiklimaks.
Terlepas dari bermacam pertimbangan, yang terpenting dalam menulis puisi adalah eksistensi dan ketekunan dalam menulis. Ade dan Egi sebenarnya sudah memiliki pondasi yang kokoh. Tinggal bagaimana mereka. Apakah tetap pada jalurnya pada puisi atau tergoda pada yang lain.

 

Fajar Timur, penyair, Sekretaris Lentera Internasional

No Responses

Leave a Reply