Friday 15th December 2017

Puisi: It Needs Time

Puisi: It Needs Time
Oleh Malkan Junaedi
I
Dalam sebuah wawancara, Pramoedya Ananta Toer ditanya tentangmana di antara puluhan karyanya sendiri yang menurutnya paling bagus.Penulis Tetralogi Pulau Buru itu menjawab, “Saya tidak mempersoalkan bagus dan tidak. Nggak pernah saya. (….) Mereka itu anak-anak rohani yang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri. Ada yang mati muda, ada yang mungkin bisa hidup seterusnya. Itu di luar kekuasaan saya.”
Jawaban di atasboleh jadi merupakan pernyataan diplomatis atau  sebaliknya refleksi dari ketulusan seseorang dalam menulis. Namun, saya membayangkan,kalau saja pewawancara mengubah pertanyaannya menjadi “Karya mana yang paling bung Pram sukai?”, lelaki yang berkali-kali dinominasikan sebagai penerimaNobel Kesusastraan itu mungkin akan menyebutkan satu judul, entah yang mana. Sebab bagus berbeda dari suka.Bagus mengandaikan analisis dan argumentasi, sedang suka lebih merupakan persoalan selera, dan orang yang terjangkit hipertensi yang parah sekalipun mungkin tetap menyukai sate kambing dan mengonsumsinya secara berkala sambil tetap menyadari dan mengakui itu tidak bagus untuk kesehatannya.
Demikianlah, kita bisa membawa sembarang puisi, bersama dengan atau terpisah dari penciptanya,ke laboratorium imajiner teori dan kritik sastra, lalu dengan berbagai alatyang tersedia melakukan pengamatan serius atasmacam-macam kandungan dan elemen objekliterer tersebut, untuk pada akhirnyamenentukan, entah dalam parameter apa, apa sajasih kelebihan dan kekurangan tulisan tadi, juga manfaatnya untuk pembaca secara umum.Namun harus dicamkan,aktivitas semacam ini tak pernah memastikan apapun, tidak nasib baik atau nasib buruk sebuahtulisan. Sebab survivalkarya sastra tidak pernah berlangsung dalam institusi kritik sastra, melainkan melibatkan dialog kebudayaansecara lebih luas lagi. Represi politis, misalnya, seperti dialami Pram dan tulisan-tulisannya, mungkin menenggelamkan dalam beberapa waktu jenis tulisan tertentu dan mencuatkannya secara luar biasa di waktu-waktu yang lain. Karenanya, apa yang saya sampaikan berikut pada hakikatnya hanyalahserangkaian komentar subjektifyang sebaiknya diragukan ketimbang dipercayai kebenarannya, sebab ia memang tak memastikan apapun.
II
Biasanya, yang saya lakukansegera setelah menerima sekumpulan puisi adalah menelitibiografi penulisnya. Pengetahuan mengenaijenis kelamin, usia, latar keluarga dan pendidikan, atau singkatnya kesiapaan penulis, selalu merupakan hal yang memberi kontribusi signifikan untukpembacaan yang lebih kontekstual dan pembicaraan yang lebih humanis.Kita bisa saja berbicara berdasarkan fakta tekstual belaka, namun fakta lain semisal bahwa karya sastra merupakan praktik sosial yang mengandaikan motif pembuatan dan kompetensi tertentu, jelas tak bisa begitu saja diabaikan. Nama Abel Muhammad Gibran mengingatkan saya pada seorang pemuda, salah satu anak manusia pertama berdasarkan ajaran agama-agama Abrahamic, yang dibunuh oleh saudaranya sendiri karena rasa iri, juga pada penyair Lebanon penulis Sang Nabi, salah satu buku puisi paling terkenal dan paling laris di dunia. Adapun nama Poetry Ann mengingatkan saya pada teman facebook saya, Puspita Ann,juga pada puisi, walau saya percaya nama itu dibaca “putri”, bukan “ˈpō-ə-i-trē”.
Pada pembacaan pertama,saya tak merasakan adanya hal yang sangat istimewa pada puisi-puisi Abel.Namun ketika tiba pada biografinya, setelah tahu bahwa ia baru berusia 14 tahun, saya terkejut. Luar biasa, pikir saya. Saya ingat saya belum menulis puisi di usia itu. Bukannya saya tak tahu bahwa Abel bukan satu-satunya yang menulis sejak remaja. Rendra, misalnya, sudah berkarya sejak masih SMP, bahkan pada tahun 1956, saat usianya baru 20 tahun,ia sudah menerimaHadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional(BMKN) untuk buku puisinya Ballada Orang-Orang Tercinta.Bagaimanapun, fenomena pelajar SMP menulis puisi tetap merupakan kejutan manis buat saya, mengingat kebijakan orang tua dan pemerintah hari-hari ini kurang berpihak pada keberlangsungan hidup puisi.
Setelah membaca kelima puisi Abel, saya berasumsi bahwaremaja ini tengah memasuki satu tahap krisis eksistensial, ditandai dengan (1) munculnya kegelisahan menyaksikan apa yang terjadi di sekitarnya, baik yang disaksikan secara langsung maupun melalui media massa, juga (2) kenanaran menentukan identitas dan posisi diri dalam peri kehidupan sosial.Puisi “Menatap Layar Kaca” (MLK) adalah salah satu eksponen dari proposisi di atas. Terlihat di puisi ini bagaimana gelisahnya Abel, sampai-sampai ia, melalui personakorban perkosaan, mempertanyakan andil Tuhan dalam penderitaan atau kejahatan yang dialami.
Apakah tuhan itu laki-laki,
sehingga selalu memberi
kekuatan pada kaum pria?
seru korban perkosaan!
Rasa tak berdaya dan bingung Abel dalam mencari solusi permasalahan mencapai klimaks dengan tindakan meretur semua konflik pada entitas absolut, sang causa prima, baik dalam wujud protes (bait ketiga dan empat) maupun kepasrahan (bait kelima dan enam). Puisi ini ditutup dengan baris kontemplatif, Kulihat Tuhan menangis!, yakni walau Tuhan tampak seolah tak berbuat apa-apa untuk membereskan semua tragedi yang terjadi, namun jelas dalam kesadaran penulis Dia bukan pihak yang ‘menyetujui’ hal itu terjadi.
“Pada Waktunya” dan “Matahari” adalah dua puisi dari tahun 2010 (saat usia Abel baru 11 tahun!). Yang pertama agaknya berbicara tentang hari kiamat, hari di mana manusia bukanlah siapa-siapa lagi, tanpa predikat, kekayaan, kekuasaan, atau —dalam istilah pelajar SMPN 1 Cilegon tersebut— merupakan sesuatu yang kosong, hanya tinggal memetik segala laku dan ucap sepanjang jalani kehidupan. Sedang yang kedua menggambarkan dialog (atau lebih tepatnya monolog) intim penulis dengan matahari, simbol harapan dan pengetahuan, mengeluhkan alasan ketidakhadirannya pada saat dibutuhkan. “Surat Buat Tuhan” tampak sebagai puisi sentimental namun jujur dan manis. Bagaimana tidak, Abel minta izin pada Tuhan untuk mencinta (entah apa atau siapa) dan menyatakan tak keberatan bila sebab itu ia terluka. Puisi “Hatiku” adalah yang paling saya suka. Hanya terdiri dari satu bait, namun menyimpan makna yang dalam dan menyiratkan semangat mengasihi dalam ketulusan. Hanya saja kata “akan” pada baris akan aku berikan hatiku untukmumenurut hemat saya baik diganti dengan kata “ingin”, agar makna jadi lebih jelas dan terarah.
Berbeda dari puisi-puisi Abel yang jernih, puisi-puisi Poetry memancarkan banyak bias. Tak mudah memastikan inti maksud tulisan-tulisannya. Ini, saya kira, disebabkan tema yang dipilih diungkapkan dengan diksi-diksi yang memiliki referensi pada pengalaman yang sangat personal. Judul “Sepanjang Jalan Ciceri” (SJC) mengingatkan saya pada tembang lawas yang dipopulerkan Tetty Kadi, Sepanjang Jalan Kenangan. Sebagian pembaca mungkin akan membatin di manakah jalan Ciceri itu? Apa ia sejenis Malioboro? Tak ada penjelasan di sepanjang puisi, agaknyapembaca diminta untuk lebih memerhatikan apa yang terjadi ketimbang di mana terjadinya. Di hampir setiap bait SJC saya menemukan diksi yang maknanya sulit didefinisikan berdasarkan bangunan sintaksisnya: nyeri, sebuah nama, si mata hijau,dan sebaris luka. Tak jelas nyeri itu disebabkan oleh apa, sebuah nama itu nama orangkah, binatang, tumbuhan, atau benda abstrak. Apa maksud dari si mata hijau yang terlalu lama dinanti hingga membuat kecewa itu. Juga sebaris luka itu, luka apa, letaknya di mana. Semua terasa menggantung. Akhirnya saya mengusahakan rekonstruksi semantis dengan menghadirkan beberapa kata tanya dan menjawabnya berdasarkan informasi yang terserak di sepanjang teks: (1) Siapa? Engkau. (2) Di mana? Di jalan Ciceri. (3) Kapan? Suatu malam. (4) Mengapa? Merasakan nyeri, kecewa, dan tak pasti. Dengan demikian walau saya tak sepenuhnya memahami, paling tidak saya bukannya sepenuhnya tak mengerti. Nyatanya tak ada syarat puisi haruslah jernih. Ambiguitas dalam kadar tertentu bisa menjadi sumber kekayaan yang membuat puisi bisa dimaknai ulang di setiap pembacaan.
 “Fragmen Kamu”, dibandingkan SJC, merupakan puisi yang relatif lebih bisa dijejak. Ada repetisi bau amis darah menguar dan paparan yang konsisten bahwa yang dibicarakan adalah seorang perempuan. Kemungkinan besar Poetry tengah membicarakan hubungan ibu dan anak yang ditautkan melalui proses persalinandan pengasuhan yang heroik; bahwa ibu adalah wanitayang tersenyum mempertaruhkan nyawa untukmu; dan tetap saja tersenyum meski kamu seringkali menusuknya dengan duri;bahwa walau begitu ibu tetap tak tahu anaknyakelak entah membalas suka atau malah nestapa. Adapun “Sepagi Ini” adalah puisi liris. Iramanya enak, terutama bait terakhir, walau maknanya lumayan sulit untuk digenggam. Ia bukan sepenuhnya puisi suasana, namun pun tak cukup beralasan untuk disebut puisi ekspresionis. Sebaliknya, “Teh Hangat” adalah puisi naratif. Masing bait sejatinya merupakan kalimat panjang yang dipotong-potong demi kepentingan enjambemen dan persajakan. Sayang, walau banyak frasa penjelas bisa ditemukan, tetap tak mudah menangkap poin utamanya. Saya menduga ini sebab Poetry terlalu banyak menjejalkan imaji abstrak, seperti terlarang, kegelisahan, gagal, tafsirkan, berhasil, rindu, perjalanan, menelantarkan, dan tujuan. Imaji abstrak dalam puisi memang sulit untuk 100% dihindari, dan memang tak wajib dihindari sepenuhnya. Hanya saja jika (pro)porsinya tak diperhatikan,ia bisa membuat puisi menjadi kabur arah dan maknanya.
Di antara kelima puisi yang dihadirkan, “Kalijambe” merupakan puisi Poetry yang paling saya suka. Puisi ini mengingatkan saya pada “Ibu Kota Senja” (IKS) karya Toto Sudarto Bachtiar dan “Tanah Kelahiran” (TK) karya Ramadhan K.H..Saya ingin mengutip keduanya untuk bahan perbandingan, namun karena terbatasnya ruang, saya kutipkan bagian pertama puisi“Tanah Kelahiran” saja.
Seruling di pasir ipis,
merdu antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
burangrang – Tangkubanprahu.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun
Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit.
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.
Tentu ada banyak beda antara “Kalijambe” dengan IKS dan TK. Namun ketiganya dibuat sama-sama berdasarkan pengamatan terhadap lanskap suatu wilayah, khususnya “Kalijambe” potret yang diambil adalah pemandangan dan suasana di sebuah kawasan perkebunan. “Kalijambe” adalah puisi yang riuh dengan imaji visual, namun keriuhannya tak membuat kepala pening, sebab kehadiran masing-masing menopang  konstruksi teks secara keseluruhan.
III
Alhasil, Abel adalah penulis potensial. Di usianya yang masih belia ia sudah mampu menciptakan ungkapan-ungkapan yang menarik. Saya yakin, dengan terus menulis dan tak lelah-lelah membandingkan tulisannya dengan tulisan-tulisan yang lebih matang, bobot tulisannya akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Ia juga perlu mengasah kemampuannya membuat metafora, supaya puisinya terasa lebih segar. Poetry, di sisi lain, dari segi usia dan pengalaman jauh di atas Abel. Tampak, walau mungkin tak sangat jelas, ia sudah mulai menemukan gaya pengucapannya sendiri. Namun menurut saya alangkah baik jika  ke depan ia mau dan bisa mengurangi imaji-imaji abstrak semacam kesenangan, kegelisahan, bangga, dan bahagiaitu, menggantinya dengan imaji-imaji visual, sehingga puisi-puisinya jadi lebih tajam dan menyentuh.Saya optimis, jika memang kedua penulis ini telah memiliki kecintaan terhadap puisi, maka kematangan hanyalah soal waktu.
Blitar, 27 November 2013
Malkan Junaidi
 12687943_1087720087937629_8899744864718090273_n
Tags: , ,

No Responses

Comments are closed.